Senin, 21 Maret 2016

KITA

Waktu adalah kisah
Tiap detiknya terukir cerita
Duka berganti suka
Tawa mengobati luka
Satu senyuman mengubah dunia
Sebuah pengkhianatan mengakhiri semua

Suka dan duka selalu tercipta
Kita lewati dengan senyuman
Duka tercipta untuk menguatkan
Suka datang untuk menepis duka
Bersama lalui duka
Bersama ciptakan suka

Tak peduli orang menghujat
Kita adalah sahabat
Tak peduli matahari menghina dengan keagungannya
Kita tetap bersama dalam ketidaksempurnaan
Sedalam apapun kekecewaan
Kau tetaplah kawan
Walau pengkhianatan tercipta
Waktu tak akan mampu menghapus kisah kita

Kita warnai putih hidup ini
dengan goresan kecil penuh arti
Kita lewati hitam dunia ini
dengan tawa dan cerita mengiringi
Bak rembulan yang menerangi
kau adalah cahaya dalam kegelapan hati
Bagai matahari diterjang badai
kau tetap menerangi walau duka menghantui
Laksana embun pagi
Kau sejukkan hati dengan senyum kecil

Bersama arungi ruang dan waktu
Bersama lewati kehidupan berarus
Bersama untuk tetap satu
Kau dan aku masih seperti dulu
Sahabat terhebat dalam hidup

#~#~#~#

*puisi ini aku persembahkan untuk tiga sahabat hebat yang pernah hadir dalam hidupku. To you, my besties: Pin, Be, Tuff

Rasa Hidup

Hidup tak seindah mimpi
Kenyataan tak semanis keinginan hati
Cinta tak sesakit perih
Bagai langit dan bumi
Seperti air mengalir
Itulah hidup ini

Pemberian berujung penolakan
Ketulusan berbuah pengkhianatan
Berharap cinta diberi luka
Penantian panjang berakhir sia-sia
Bukan bahagia
Hanya kecewa yang terasa
Itulah kisah..

Susah...
Bahagia...
Duka...
Suka....
Lara...
Cinta....
Itulah rasa...

Hidup adalah kisah
Rasa adalah bumbu kehidupan
Hidup tanpa kisah adalah hampa
Kisah tanpa rasa akan hambar
Walau perih,
selalu ada yang dapat diperbaiki
Walau pahit,
pasti ada manis mengiringi
Walau hari ini sulit,
akan mudah di lain hari
Itulah roda kehidupan bumi

Bagaikan air..
Biarkan kisah kehidupan mengalir
Biarkan rasa bertebaran saling melengkapi
Kecewa, lara, dan luka pasti menghampiri
Biarkan bahagia, tawa, dan suka datang mengganti
Jangan sesali apa yang usai
Hidup ada bukan untuk disesali
Biarkan waktu menulis kisah yang terjadi
Tertulis indah di lembar kehidupan ini
Sebagai pelengkap hidup dibumi

^^^

Sabtu, 19 Maret 2016

Kincir Angin



            Angin malam berhembus pelan menerpa lembut apa yang ada di sekitarnya. Aroma sisa hujan tadi sore menyeruak perlahan seiring hembusan angin. Bintang-bintang yang biasanya menghiasi langit malam sepertinya sedang absen dari pandangan. Langit yang semakin gelap menambah dingin suasana malam itu. Namun sepertinya dinginnya malam tak membuat Karin beranjak dari tempatnya. Sesekali dia menggosokkan kedua tangannya untuk menghangatkan badannya yang menggigil kedinginan. Enatah mengapa Karin sedang ingin duduk di balkon kamarnya sambil menikmati suasana dingin malam itu. Sesekali dia menengok ke belakang. Ada sebuah kincir angin kecil di jendela kamarnya. Setiap angin berhembus, Karin melihat ke arah kincir angin tersebut dan tersenyum sesaat setelah melihat kincir angin itu berputar. Ia dongakkan kepalanya ke langit malam. Matanya menerawang memikirkan sesuatu. Beberapa saat kemudian ia tersenyum nanar.
            Ah.. andai engkau masih di sini.. batinnya. Dan tanpa terasa air matanya menetes dari pelupuk matanya.

***
1 bulan yang lalu...
            “Rin.. Karin..!!”
            Karin yang sedang berjalan menuju kelasnya tiba-tiba berhenti dan menengok ke asal suara. Ternyata Ricky yang memanggilnya.
            “Apaan sih, Rick ? Pagi-pagi udah teriak-teriak. Gue masih belom budek kalee,” dengus Karin pura-pura kesal.
            “Hehe..sori sori. Abis elo kalo jalan cepet gila. Gue juga udah manggil-manggil elo dari tadi, eh elonya malah asik sendiri sama itu,” kata Ricky sambil menunjuk ipod dan headphone Karin. Karin yang baru sadar hanya terkekeh menertawakan kebodohannya itu.
            “Hehehe.. Ya maaf, Rick,” kekeh Karin.
            “Elo, tuh kebiasaan banget ya pagi-pagi udah nutup kuping kayak gitu. Oh, gue tahu. Biar elo gak denger gosip dari anak-anak kelas sebelah tentang kita, kan ?” ledek Ricky jahil.
Karin langsung cemberut mendengar ledekan Ricky. Gara-gara kemarin lusa kakinya terkilir karena main basket pas pelajaran olahraga, Ricky menggendongnya sewaktu pulang karena Karin sama sekali gak bisa jalan. Dan di jam pulang seperti itu otomatis semua siswa SMA Harapan langsung kocar-kacir. Dan enggak sedikit orang yang lihat adegan Ricky nggendong Karin dan banyak pula yang berbisik sana sini sewaktu mereka lewat. Ya secara, Ricky adalah salah satu cowok favorit di SMA Harapan. Udah ganteng, baik, tajir pula.
“Hei..Rin. Haloo..” seru Ricky sambil melambaikan tangannya di depan wajah Karin memecah lamunan Karin.
“Lahh.. malah bengong. Berarti bener kan, elo gak mau denger gosip dari anak kelas sebelah ? Udah, gak usah dengerin omongan orang. Mereka itu pada sirik sama elo karena elo beruntung banget digendong sekaligus dianter sama salah satu cowok favorit se-SMA ini,” Ricky masih meledek. Karin seketika refleks mencubit lengan Ricky.
“Ihh..sotoy banget, sih lo ! Gue cuma lagi suntuk, pengen refresh sebelum ulangan Kimia nanti, tauk,” kata Karin masih cemberut. Dan alasan itu memang benar karena semalam dia udah berkutat dengan rumus-rumus Kimia yang nyaris bikin gila.
“Alahh.. alesan lo. Hahaha..” ucap Ricky.
“Hishh ! Dasar cowok gila,” kata Karin.
“Hahaha.. Jangan bilang gitu dong, Rin. Entar kalo elo suka gue sukurin. Hahaha..” tawa Ricky meledak. Karin mencubit lengan Ricky lagi dengan gemas.
“Aduhh..duhh, Rin. Sakit, tauk !” protes Ricky sambil mengusap bekas cubitan Karin.
“Sukurin ! Weekkkk ! Udah, ah. Ayo ke kelas. Ntar keburu Pak Gugun dateng,” ajak Karin sambil menarik lengan Ricky.
Mereka pun berjalan menuju ke kelas sambil sesekali bercanda. Sesampainya di kelas, ternyata kelas masih belum ramai. Karin menuju ke baris kedua kemudian mendudukkan diri di urutan nomor 2 dari depan. Ricky menyusul duduk di sampingnya.
“Eh ? Kok elo duduk di sini, sih ? Ini kan tempat duduknya Ratih,” tanya Karin heran.
“Duduk di sini sebentar, kan gak apa-apa. Lagian si Ratih juga belom dateng, tuh,” jawab Ricky santai. Karin hanya menggeleng-geleng kepala pelan. Dia sudah hafal dengan berbagai alasan yang terlontar dari mulut Ricky.
“Gimana kaki lo ? Udah baikan ?” tanya Ricky sambil menatap kaki Karin.
“Lumayan, lah. Enggak separah kemarin lusa. Paling nggak, kalo buat nendang elo, kaki gue udah kuat, kok,” jawab Karin setengah bercanda.
“Syukur, deh. Entar pas pulang, elo bareng gua aja,” kata Ricky masih tetap menatap Karin.
“Lahh ? Ngapain bareng elo ? Kan kaki gue udah gak apa-apa, Rick,” Karin mengerutkan keningnya heran.
“Udah gak usah banyak tanya. Mau kaki elo sakit apa enggak, elo harus tetep balik bareng gue. Oke,” jawab Ricky dengan tatapan penuh makna.
Karin menatap Ricky dengan kening semakin berkerut. Ricky hanya tersenyum dan diusapnya puncak kepala Karin dan kemudian dia segera menuju bangkunya. Karin hanya terdiam. Jantungnya berdegup cepat. Sudah kesekian kalinya Ricky seperti ini. Mengusap puncak kepala Karin seakan-akan dia masih anak kecil. Setiap kali Ricky melakukan hal itu, Karin semakin tidak karuan. Ricky dan Karin memang sudah setahun ini dekat. Banyak yang bilang mereka pacaran. Tapi baik Ricky maupun Karin mengabaikan persepsi seperti itu.

***

            Ricky terdiam sejenak sesaat setelah mendudukkan badannya di bangkunya. Dia melihat Karin masih diam tak bergerak. Ricky tersenyum simpul. Bukan yang pertama kali dia melakukan usapan lembutnya ke kepala Karin dan melihat dia terdiam. Sejak pertama kali melihat Karin, Ricky merasa cewek itu berbeda dari semua cewek yang pernah ia temui. Ricky tanpa sengaja bertemu Karin dalam acara bakti sosial yang diadakan sekolah setahun yang lalu. Semula Ricky menganggap bahwa semua peserta cewek yang ikut bakti sosial semata-mata hanya untuk mencari kesempatan supaya mereka bisa deket dengan Ricky, tak terkecuali Karin. Bullshit. Begitu Ricky menganggapnya karena mereka terkesan munafik. Tapi dari sekian banyak cewek yang ikut bakti sosial, Karinlah yang menurut Ricky berbeda dari yang lain. Dari sorot mata dan bahasa tubuhnya, Ricky tahu Karin benar-benar memiliki jiwa yang peduli. Dan dia satu-satunya cewek yang sama sekali eggak cari perhatiannya Ricky. Dan Ricky terkesan.Dan saat ini perasaannya lebih dari itu, Ricky sayang pada Karin. Tapi perasaan itu dia simpan rapat-rapat.

***

            Angin kembali berhempus pelan. Kali ini diikuti rintik hujan yang membunyikan melodi ketika berketuk dengan atap-atap rumah. Karin sudah berada di depan jendela kamarnya dan sedang menatap kincir angin mungilnya yang berputar karena tiupan angin. Dia tersenyum saat mengingat kembali pernyataan seseorang yang pernah membuat jantungnya berdegup kencang.

***

            Ricky dan Karin kini sudah berada di sebuah taman kota yang menyegarkan pemandangan dengan warna hijaunya. Ricky akhirnya berhasil memaksa Karin pulang bersamanya. Padahal Karin sudah ada janji sama Ratih untuk nonton film terbaru di mall favorit mereka. Tapi, berkat ibalan es krim dari Ricky, akhirnya Karin mau. Saat ini Karin sedang asyik menikmati es krim kesukaannya. Ricky sesekali tertawa geli melihat tingkah Karin. Diusapnya puncak kepala Karin dan seketika membuat Karin menegang. Ricky kembali tertawa pelan.
            “Rick, kok elo seenaknya ngusap kepala gue, sih ? Emang gue anak kecil apa ?” tanya Karin setelah ia dapat menguasai diri kembali.
            “Karena gue sayang sama elo, Rin,” jawab Ricky mantap.
Bukan tanpa kesadaran dia mengucapkan pernyataan itu. Dia memang sudah merencanakan jawaban apa yang akan diberikan kepada Karin apabila pertanyaan seperti itu terlontar. Karin tertegun dibuatnya. Benar-benar di luar dugaan. Dengan tatapan shock, dia menoleh ke arah Ricky. Berharap apa yang didengarnya itu hanyalah candaan Ricky.
“Jangan berwajah seperti itu, dong. Gue lagi gak bercanda, Rin,” kata Ricky seperti mengetahui isi pikiran Karin.
“Udah lama gue nyimpen parasaan ini ke elo. Gue beruntung banget selama setahun ini gak ada yang deketin elo selain gue. Elo tu..beda. Elo bukan cewek yang tergila-gila sama gue karena gue ganteng dan kaya. Elo sederhana. Simpel. Elo deket dengan gue karena elo melihat gue sama kayak yang lain. Itu yang buat gue suka sama elo.  Dan gue memutuskan untuk mengungkapkannya sekarang sebelum semuanya terlambat. Elo gak perlu jawab bahkan membalas perasaan gue. Bagi gue, ada di samping elo, liat elo ketawa dan bisa melindungi elo adalah hal yang terindah buat gue,” ungkap Ricky lembut.
Karin menatap kedua mata Ricky dan dia tidak menemukan kebohongan di sana. Hanya ada sinar kejujuran dan ketulusan yang terpancar. Karin merutuki dirinya sendiri yang terlalu bodoh untuk tidak menyadari perasaan itu. Karin merasa telah menyakiti hati Ricky yang selama ini selalu berbaik hati padanya untuk sekedar menghibur, menemaninya saat sepi atau menelpon dirinya untuk sekedar melihat bintang di malam hari. Tak terasa, setetes demi setetes air matanya mengalir tanpa bisa dicegah. Mengetahui hal itu, Ricky segera menghampiri Karin dan memeluknya. Bukannya reda, justru tangisan Karin semakin parah. Lama Ricky memeluknya sampai Karin berhenti menangis.
“Udah ?” tanya Ricky lembut. Karin hanya mengangguk pelan.
“Rick, elo sayang sama gue. Sementara gue gak pernah peka sama perasaan elo yang tulus itu. Selama ini gue egois, gak pernah dengerin kata hati gue. Jujur, gue pernah sekali menyadari perasaan elo ke gue. Tapi gue tepis perasaan itu. Gue gak mau kehilangan elo hanya karena rasa itu tercipta di antara kita. Mungkin selama ini gue jahat bahwa gue cuma menganggap elo sebagai sahabat. Karena, gue pengen kita seperti ini, elo butuh gue dan gue butuh elo,” urai Karin dan air matanya kembali mengalir.
Ricky menghembuskan nafas dengan keras kemudian berkata, “Gue tahu,kok. Gue pun ngerasain apa yang elo rasa. Gue janji akan selalu ada buat elo. Jangan anggap rasa sayang gue ke elo sebagai penghalang.”
            Setelah Ricky berkata seperti itu, keduanya diam. Hanya isak tangis yang tedengar. Sesekali hembusan nafas Ricky yang terdengar. Ada kelegaan yang menyeruak di hati sekaligus kepahitan. Tapi walau bagaimanapun, Ricky sayang Karin. Selanjutnya akan seperti itu.

***

            “Ini buat elo,” Ricky menyerahkan kincir angin mini yang ia beli tadi sewaktu berjalan pulang dari taman. Karin heran ketika menerima hadiah mungil itu.
            “Kincir angin ?” tanyanya heran.
            “Iya. Kincir angin ini akan terus berputar selama angin berhembus. Sama seperti hidup ini yang akan terus selalu berputar selama kita masih menghembuskan nafas. Kamu harus jalani hidup kamu dengan happy. Jangan kusut tiap hari. Tiap hari muka lo tu kucel banget,” jelas Ricky sambil tertawa.
            “Ah, elo nyebelin banget,” ujar Karin kesal. Dia pun mencubit lengan Ricky dengan gemas. Ricky meringis kesakitan.
            “Oh, iya. Kalo elo pengen kincir angin ini muter, tapi gak ada angin, elo kudu tiup tuh kincir angin. Tapi kalo elo lagi males, gue siap niupin itu kincir angin buat elo,” kata Ricky.
            “Hahaha..gak mau gue. Elo kan bau, wekkkk,”ledek Karin.
Ricky menjitak kepalanya pelan kemudian mengusap puncak kepalanya seperti biasa.

***

            Mungkin hari itu adalah hari terakhir Karin bersama Ricky. Karena setelah itu, Ricky kecelakaan saat perjalanan pulang dari rumah Karin. Motornya tertabarak truk dan remuk. Ricky sempat kritis sebelum akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya sesaat setelah Karin datang ke rumah sakit. Dia pergi dengan segala perasaan dan ketulusannya. Sama sekali tak bersisa. Dia pergi dalam kedamaian di hatinya karena perasaan terbesarnya telah terungkap. Itulah yang setidaknya Karin simpulkan saat melihat senyum terakhir tersungging di bibir Ricky.
            Ricky kini telah pergi bersama kenangannya. Karin mengamati kincir angin pemberian Ricky dalam diam. Benda itu masih berputar karena angin masih berhembus. Air mata Karin menetes perlahan.
Tuhan, terima kasih telah Engkau kirimkan malaikatMu kepadaku. Dia mengajariku ketulusan, kehidupan dan semuanya. Bahagiakan dia di sana, Tuhan.
Ricky, walaupun ragamu telah tiada, jiwamu masih ada di sini, di dalam kincir anginmu ini. Walaupun engkau tak lagi bisa menemaniku melihat indahnya bintang di sini, tapi aku yakin dari sanalah kau menemaniku. Walau engkau tak bisa meniupkan kincir angin ini untukku, tapi akulah yang akan meniupkan kincir angin ini untukmu sebagai ungkapan rinduku padamu. Walaupun engkau tak bisa lagi membuatku bahagia, Tuhan yang akan membahagiakanku. Rick, beristirahatlah dalam damai.
I love you...

***