Angin malam berhembus pelan menerpa
lembut apa yang ada di sekitarnya. Aroma sisa hujan tadi sore menyeruak
perlahan seiring hembusan angin. Bintang-bintang yang biasanya menghiasi langit
malam sepertinya sedang absen dari pandangan. Langit yang semakin gelap
menambah dingin suasana malam itu. Namun sepertinya dinginnya malam tak membuat
Karin beranjak dari tempatnya. Sesekali dia menggosokkan kedua tangannya untuk
menghangatkan badannya yang menggigil kedinginan. Enatah mengapa Karin sedang
ingin duduk di balkon kamarnya sambil menikmati suasana dingin malam itu.
Sesekali dia menengok ke belakang. Ada sebuah kincir angin kecil di jendela
kamarnya. Setiap angin berhembus, Karin melihat ke arah kincir angin tersebut
dan tersenyum sesaat setelah melihat kincir angin itu berputar. Ia dongakkan
kepalanya ke langit malam. Matanya menerawang memikirkan sesuatu. Beberapa saat
kemudian ia tersenyum nanar.
Ah..
andai engkau masih di sini.. batinnya. Dan tanpa terasa air matanya menetes
dari pelupuk matanya.
***
1 bulan yang lalu...
“Rin.. Karin..!!”
Karin yang sedang berjalan menuju
kelasnya tiba-tiba berhenti dan menengok ke asal suara. Ternyata Ricky yang
memanggilnya.
“Apaan sih, Rick ? Pagi-pagi udah
teriak-teriak. Gue masih belom budek kalee,” dengus Karin pura-pura kesal.
“Hehe..sori sori. Abis elo kalo
jalan cepet gila. Gue juga udah manggil-manggil elo dari tadi, eh elonya malah
asik sendiri sama itu,” kata Ricky sambil menunjuk ipod dan headphone Karin. Karin yang baru sadar hanya terkekeh
menertawakan kebodohannya itu.
“Hehehe.. Ya maaf, Rick,” kekeh
Karin.
“Elo, tuh kebiasaan banget ya
pagi-pagi udah nutup kuping kayak gitu. Oh, gue tahu. Biar elo gak denger gosip
dari anak-anak kelas sebelah tentang kita, kan ?” ledek Ricky jahil.
Karin
langsung cemberut mendengar ledekan Ricky. Gara-gara kemarin lusa kakinya
terkilir karena main basket pas pelajaran olahraga, Ricky menggendongnya
sewaktu pulang karena Karin sama sekali gak bisa jalan. Dan di jam pulang
seperti itu otomatis semua siswa SMA Harapan langsung kocar-kacir. Dan enggak
sedikit orang yang lihat adegan Ricky nggendong Karin dan banyak pula yang
berbisik sana sini sewaktu mereka lewat. Ya secara, Ricky adalah salah satu
cowok favorit di SMA Harapan. Udah ganteng, baik, tajir pula.
“Hei..Rin.
Haloo..” seru Ricky sambil melambaikan tangannya di depan wajah Karin memecah
lamunan Karin.
“Lahh..
malah bengong. Berarti bener kan, elo gak mau denger gosip dari anak kelas sebelah
? Udah, gak usah dengerin omongan orang. Mereka itu pada sirik sama elo karena
elo beruntung banget digendong sekaligus dianter sama salah satu cowok favorit
se-SMA ini,” Ricky masih meledek. Karin seketika refleks mencubit lengan Ricky.
“Ihh..sotoy
banget, sih lo ! Gue cuma lagi suntuk, pengen refresh sebelum ulangan Kimia
nanti, tauk,” kata Karin masih cemberut. Dan alasan itu memang benar karena
semalam dia udah berkutat dengan rumus-rumus Kimia yang nyaris bikin gila.
“Alahh..
alesan lo. Hahaha..” ucap Ricky.
“Hishh
! Dasar cowok gila,” kata Karin.
“Hahaha..
Jangan bilang gitu dong, Rin. Entar kalo elo suka gue sukurin. Hahaha..” tawa
Ricky meledak. Karin mencubit lengan Ricky lagi dengan gemas.
“Aduhh..duhh,
Rin. Sakit, tauk !” protes Ricky sambil mengusap bekas cubitan Karin.
“Sukurin
! Weekkkk ! Udah, ah. Ayo ke kelas. Ntar keburu Pak Gugun dateng,” ajak Karin
sambil menarik lengan Ricky.
Mereka
pun berjalan menuju ke kelas sambil sesekali bercanda. Sesampainya di kelas,
ternyata kelas masih belum ramai. Karin menuju ke baris kedua kemudian
mendudukkan diri di urutan nomor 2 dari depan. Ricky menyusul duduk di
sampingnya.
“Eh
? Kok elo duduk di sini, sih ? Ini kan tempat duduknya Ratih,” tanya Karin
heran.
“Duduk
di sini sebentar, kan gak apa-apa. Lagian si Ratih juga belom dateng, tuh,”
jawab Ricky santai. Karin hanya menggeleng-geleng kepala pelan. Dia sudah hafal
dengan berbagai alasan yang terlontar dari mulut Ricky.
“Gimana
kaki lo ? Udah baikan ?” tanya Ricky sambil menatap kaki Karin.
“Lumayan,
lah. Enggak separah kemarin lusa. Paling nggak, kalo buat nendang elo, kaki gue
udah kuat, kok,” jawab Karin setengah bercanda.
“Syukur,
deh. Entar pas pulang, elo bareng gua aja,” kata Ricky masih tetap menatap
Karin.
“Lahh
? Ngapain bareng elo ? Kan kaki gue udah gak apa-apa, Rick,” Karin mengerutkan
keningnya heran.
“Udah
gak usah banyak tanya. Mau kaki elo sakit apa enggak, elo harus tetep balik
bareng gue. Oke,” jawab Ricky dengan tatapan penuh makna.
Karin
menatap Ricky dengan kening semakin berkerut. Ricky hanya tersenyum dan diusapnya
puncak kepala Karin dan kemudian dia segera menuju bangkunya. Karin hanya
terdiam. Jantungnya berdegup cepat. Sudah kesekian kalinya Ricky seperti ini.
Mengusap puncak kepala Karin seakan-akan dia masih anak kecil. Setiap kali
Ricky melakukan hal itu, Karin semakin tidak karuan. Ricky dan Karin memang
sudah setahun ini dekat. Banyak yang bilang mereka pacaran. Tapi baik Ricky
maupun Karin mengabaikan persepsi seperti itu.
***
Ricky terdiam sejenak sesaat setelah
mendudukkan badannya di bangkunya. Dia melihat Karin masih diam tak bergerak.
Ricky tersenyum simpul. Bukan yang pertama kali dia melakukan usapan lembutnya
ke kepala Karin dan melihat dia terdiam. Sejak pertama kali melihat Karin,
Ricky merasa cewek itu berbeda dari semua cewek yang pernah ia temui. Ricky
tanpa sengaja bertemu Karin dalam acara bakti sosial yang diadakan sekolah setahun
yang lalu. Semula Ricky menganggap bahwa semua peserta cewek yang ikut bakti
sosial semata-mata hanya untuk mencari kesempatan supaya mereka bisa deket
dengan Ricky, tak terkecuali Karin. Bullshit.
Begitu Ricky menganggapnya karena mereka terkesan munafik. Tapi dari sekian
banyak cewek yang ikut bakti sosial, Karinlah yang menurut Ricky berbeda dari
yang lain. Dari sorot mata dan bahasa tubuhnya, Ricky tahu Karin benar-benar
memiliki jiwa yang peduli. Dan dia satu-satunya cewek yang sama sekali eggak cari
perhatiannya Ricky. Dan Ricky terkesan.Dan saat ini perasaannya lebih dari itu,
Ricky sayang pada Karin. Tapi perasaan itu dia simpan rapat-rapat.
***
Angin kembali berhempus pelan. Kali
ini diikuti rintik hujan yang membunyikan melodi ketika berketuk dengan
atap-atap rumah. Karin sudah berada di depan jendela kamarnya dan sedang
menatap kincir angin mungilnya yang berputar karena tiupan angin. Dia tersenyum
saat mengingat kembali pernyataan seseorang yang pernah membuat jantungnya
berdegup kencang.
***
Ricky dan Karin kini sudah berada di
sebuah taman kota yang menyegarkan pemandangan dengan warna hijaunya. Ricky
akhirnya berhasil memaksa Karin pulang bersamanya. Padahal Karin sudah ada
janji sama Ratih untuk nonton film terbaru di mall favorit mereka. Tapi, berkat
ibalan es krim dari Ricky, akhirnya Karin mau. Saat ini Karin sedang asyik
menikmati es krim kesukaannya. Ricky sesekali tertawa geli melihat tingkah
Karin. Diusapnya puncak kepala Karin dan seketika membuat Karin menegang. Ricky
kembali tertawa pelan.
“Rick, kok elo seenaknya ngusap
kepala gue, sih ? Emang gue anak kecil apa ?” tanya Karin setelah ia dapat
menguasai diri kembali.
“Karena gue sayang sama elo, Rin,”
jawab Ricky mantap.
Bukan
tanpa kesadaran dia mengucapkan pernyataan itu. Dia memang sudah merencanakan
jawaban apa yang akan diberikan kepada Karin apabila pertanyaan seperti itu
terlontar. Karin tertegun dibuatnya. Benar-benar di luar dugaan. Dengan tatapan
shock, dia menoleh ke arah Ricky. Berharap apa yang didengarnya itu hanyalah
candaan Ricky.
“Jangan
berwajah seperti itu, dong. Gue lagi gak bercanda, Rin,” kata Ricky seperti
mengetahui isi pikiran Karin.
“Udah
lama gue nyimpen parasaan ini ke elo. Gue beruntung banget selama setahun ini
gak ada yang deketin elo selain gue. Elo tu..beda. Elo bukan cewek yang
tergila-gila sama gue karena gue ganteng dan kaya. Elo sederhana. Simpel. Elo
deket dengan gue karena elo melihat gue sama kayak yang lain. Itu yang buat gue
suka sama elo. Dan gue memutuskan untuk
mengungkapkannya sekarang sebelum semuanya terlambat. Elo gak perlu jawab
bahkan membalas perasaan gue. Bagi gue, ada di samping elo, liat elo ketawa dan
bisa melindungi elo adalah hal yang terindah buat gue,” ungkap Ricky lembut.
Karin
menatap kedua mata Ricky dan dia tidak menemukan kebohongan di sana. Hanya ada
sinar kejujuran dan ketulusan yang terpancar. Karin merutuki dirinya sendiri
yang terlalu bodoh untuk tidak menyadari perasaan itu. Karin merasa telah
menyakiti hati Ricky yang selama ini selalu berbaik hati padanya untuk sekedar
menghibur, menemaninya saat sepi atau menelpon dirinya untuk sekedar melihat
bintang di malam hari. Tak terasa, setetes demi setetes air matanya mengalir
tanpa bisa dicegah. Mengetahui hal itu, Ricky segera menghampiri Karin dan
memeluknya. Bukannya reda, justru tangisan Karin semakin parah. Lama Ricky
memeluknya sampai Karin berhenti menangis.
“Udah
?” tanya Ricky lembut. Karin hanya mengangguk pelan.
“Rick,
elo sayang sama gue. Sementara gue gak pernah peka sama perasaan elo yang tulus
itu. Selama ini gue egois, gak pernah dengerin kata hati gue. Jujur, gue pernah
sekali menyadari perasaan elo ke gue. Tapi gue tepis perasaan itu. Gue gak mau
kehilangan elo hanya karena rasa itu tercipta di antara kita. Mungkin selama
ini gue jahat bahwa gue cuma menganggap elo sebagai sahabat. Karena, gue pengen
kita seperti ini, elo butuh gue dan gue butuh elo,” urai Karin dan air matanya
kembali mengalir.
Ricky
menghembuskan nafas dengan keras kemudian berkata, “Gue tahu,kok. Gue pun
ngerasain apa yang elo rasa. Gue janji akan selalu ada buat elo. Jangan anggap
rasa sayang gue ke elo sebagai penghalang.”
Setelah Ricky berkata seperti itu,
keduanya diam. Hanya isak tangis yang tedengar. Sesekali hembusan nafas Ricky
yang terdengar. Ada kelegaan yang menyeruak di hati sekaligus kepahitan. Tapi
walau bagaimanapun, Ricky sayang Karin. Selanjutnya akan seperti itu.
***
“Ini buat elo,” Ricky menyerahkan
kincir angin mini yang ia beli tadi sewaktu berjalan pulang dari taman. Karin
heran ketika menerima hadiah mungil itu.
“Kincir angin ?” tanyanya heran.
“Iya. Kincir angin ini akan terus
berputar selama angin berhembus. Sama seperti hidup ini yang akan terus selalu
berputar selama kita masih menghembuskan nafas. Kamu harus jalani hidup kamu
dengan happy. Jangan kusut tiap hari.
Tiap hari muka lo tu kucel banget,” jelas Ricky sambil tertawa.
“Ah, elo nyebelin banget,” ujar
Karin kesal. Dia pun mencubit lengan Ricky dengan gemas. Ricky meringis
kesakitan.
“Oh, iya. Kalo elo pengen kincir
angin ini muter, tapi gak ada angin, elo kudu tiup tuh kincir angin. Tapi kalo
elo lagi males, gue siap niupin itu kincir angin buat elo,” kata Ricky.
“Hahaha..gak mau gue. Elo kan bau,
wekkkk,”ledek Karin.
Ricky
menjitak kepalanya pelan kemudian mengusap puncak kepalanya seperti biasa.
***
Mungkin hari itu adalah hari
terakhir Karin bersama Ricky. Karena setelah itu, Ricky kecelakaan saat
perjalanan pulang dari rumah Karin. Motornya tertabarak truk dan remuk. Ricky
sempat kritis sebelum akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya sesaat
setelah Karin datang ke rumah sakit. Dia pergi dengan segala perasaan dan
ketulusannya. Sama sekali tak bersisa. Dia pergi dalam kedamaian di hatinya
karena perasaan terbesarnya telah terungkap. Itulah yang setidaknya Karin
simpulkan saat melihat senyum terakhir tersungging di bibir Ricky.
Ricky kini telah pergi bersama
kenangannya. Karin mengamati kincir angin pemberian Ricky dalam diam. Benda itu
masih berputar karena angin masih berhembus. Air mata Karin menetes perlahan.
Tuhan, terima kasih
telah Engkau kirimkan malaikatMu kepadaku. Dia mengajariku ketulusan, kehidupan
dan semuanya. Bahagiakan dia di sana, Tuhan.
Ricky, walaupun ragamu
telah tiada, jiwamu masih ada di sini, di dalam kincir anginmu ini. Walaupun
engkau tak lagi bisa menemaniku melihat indahnya bintang di sini, tapi aku
yakin dari sanalah kau menemaniku. Walau engkau tak bisa meniupkan kincir angin
ini untukku, tapi akulah yang akan meniupkan kincir angin ini untukmu sebagai
ungkapan rinduku padamu. Walaupun engkau tak bisa lagi membuatku bahagia, Tuhan
yang akan membahagiakanku. Rick, beristirahatlah dalam damai.
I love you...
***